Layanan Aqiqah Terbaik di Jogja Telp/Sms/WA 08180 273 1273 atau 0851 034 55331

  • PUSAT AQIQAH JOGJA

    Pusat Aqiqah Jogja (Layanan Aqiqah Terbaik di Jogja Telp/Sms/WA 08180 273 1273 atau 0851 034 55331

  • PUSAT AQIQAH JOGJA

    Pusat Aqiqah Jogja (Layanan Aqiqah Terbaik di Jogja Telp/Sms/WA 08180 273 1273 atau 0851 034 55331

Penjelasan Aqiqah Anak Laki-Laki Dengan Satu Kambing


Aqiqah merupakan salah satu ibadah umat Islam dalam rangka mewujudkan rasa syukur dan doa kepada Allah atas anak-anak yang dianugerahkan kepada orang tua. Aqiqah anak laki laki ataupun perempuan, telah menjadi bentuk ibadah sunnah yang telah diajarkan oleh uswatun khasanah kita, Rasulullah Muhammad SAW

Aqiqah Anak Laki-Laki

aqiqah anak laki-laki
Aqiqah Anal Laki-Laki

Rumah Aqiqah Jogja - Beliau mengajarkan ibadah aqiqah anak kepada para sahabat dan kaum muslimin seluruhnya. Ajaran tersebut beliau tunjukkan dengan cara mengaqiqahi dua cucunya, Al Hasan dan Al Husain. Akhirnya para sahabat dan segenap kaum muslimin yang telah mampu, kemudian melaksanakan aqiqah untuk anak-anaknya.

Ajaran Aqiqah dalam Islam

Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan aqiqah untuk anak-anak sebagai ibadah sunnah muaqaddah. Beliau mengaqiqahi Al Hasan dan Al Husain secara bersamaan pada hari ketujuh setelah kelahiran kedua cucunya. Pada saat itu, Rasulullah SAW mengaqiqahi kedua cucunya dengan dua ekor kambing, di mana masing-masing cucu berarti dengan 1 kambing.

Selain itu, diriwayatkan dalam berbagai hadits shahih, bahwa Rasulullah juga memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan ibadah aqiqah anak laki laki dan anak perempuan. Ibadah aqiqah anak dijadikan sebagai gadai atas anak, yakni dengan menyembelih kambing pada hari ketujuh dan mencukur rambut kepalanya dan diberikan nama.

Baca juga : layanan Aqiqah Bekasi

Hukum Aqiqah Anak Laki Laki dan Perempuan

Hukum aqiqah tidak terbatas pada jenis kelamin. Hukum dari aqiqah anak adalah sunnah muaqaddah, yang sangat dianjurkan untuk bisa dilaksanakan oleh para orang tua. Namun, apabila belum mampu, maka tidak mengerjakannya pun tidak akan mendapatkan dosa. Jadi, baik aqiqah anak laki laki ataupun aqiqah anak perempuan, hukumnya tetap sama, yakni sunnah muaqaddah.

Apabila orang tua memiliki kemampuan, baik dalam segi materi maupun non materi, maka mengerjakan aqiqah anak sangatlah utama. Sedangkan, jika belum bisa mengaqiqahi anak pada usia ketujuh hari setelah kelahiran, maka orang tua diperbolehkan menundanya sampai ia memilki kemampuan melaksanakan aqiqah anak. Dan apabila tetap tidak bisa melaksanakan aqiqah, maka orang tua tidak akan mendapatkan pahala maupun dosa.

Baca artikel : Penyedia layanan aqiqah Jakarta.

Jumlah Kambing Aqiqah Anak Laki Laki

Jumlah kambing dalam pelaksanaan aqiqah anak laki laki diriwayatkan dalam beberapa hadits shahih. Terdapat sedikit perbedaan dalam beberapa hadits shahih yang meriwayatkan mengenai pelaksanaan aqiqah anak laki laki.

Sebagian hadits meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengaqiqahi Al Hasan dan Al Husain dengan dua ekor kambing, sehingga masing-masing anak diaqiqahi dengan 1 ekor kambing. Hadits lain meriwayatkan bahwa aqiqah anak laki laki dilakukan dengan dua ekor kambing.

Hadits-hadits yang meriwayatkan tentang jumlah kambing yang diaqiqahkan untuk anak laki laki adalah shahih, sehingga kedua pendapat sama kuatnya. Akhirnya para ulama memutuskan bahwa hukum aqiqah anak laki laki akan jauh lebih utama jika dilakukan dengan dua ekor kambing. Namun demikian, jika aqiqah anak laki laki dilakukan dengan 1 ekor kambing saja, maka hukumnya juga boleh.

Dari hal ini, maka diketahui bahwa jumlah kambing aqiqah anak laki laki adalah sunnah, sehingga jika tidak harus dua ekor kambing. Apabila mampu dua ekor, maka akan lebih utama. Namun, jika ternyata hanya mampu satu ekor kambing saja, diperbolehkan, dan tidak akan menimbulkan dosa, aqiqah anak laki laki pun juga sah.

Kunjungi artikel tentang paket aqiqah bogor terbaik.

Selain jumlah kambing dalam aqiqah anak laki laki, yang terpenting adalah niat dalam melaksanakan aqiqah. Aqiqah anak laki laki harus dilandaskan atas niat karena Allah, sehingga amalan bisa diterima dan tidak menimbulkan riya’.


Baca artikel Terkait Lainnya
Share: